Tuesday, August 23, 2016

Perlu Pilot Project

Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI mengubah sistem pendidikan  di Indonesia menjadi full day school, mendapat tanggapan dari banyak pihak. Kadis Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora), Provinsi Bali, TIA Kusuma Wardhani mengatakan, terkait wacana full day school, banyak hal yang menjadi dasar atau kajian sebelum sistem ini diberlakukan.


 TIA Kusuma Wardhani

TIA Kusuma Wardhani


Menurutnya, harus ada pemetaan yang jelas dan mendalam tentang wilayah Indonesia terlebih dahulu.  “Kita harus melihat wilayah Indonesia.  Tidak semua wilayah sama, ada yang di perkotaan, di perdesaan,  dan di daerah perbatasan,  dengan jarak tempuh ke sekolah ada yang dekat, sedang, bahkan perlu perjuangan untuk sampai ke sekolah.   Apalagi, siswa akan berada mulai pukul 07.00 sampai 16.00 di sekolah, kita juga perlu melihat, bagaimana kondisi sekolah,” ucapnya.


Selain itu, harus melihat juga dukungan sarana dan prasarana sekolah, termasuk halaman yang memadai,  karena ini yang disasar anak SD, SMP, dan SMA, yang waktunya tak sepenuhnya belajar. “Perlu diimbangi juga dengan bermain karena ini berkaitan dengan usia tumbuh kembang anak,” katanya.

Ia mengatakan, apakah kondisi sekolah di Indonesia sama? Tentu tidak.  Menurutnya, Indonesia  perlu  punya pemetaan sebagai syarat utama sehingga bisa dicek, yang mana sekolah dianggap siap dan yang mana yang tidak siap.


Selain sarana dan prasarana, perlu juga  melihat dari SDM guru.   “Apakah guru sudah siap memfasilitasi  siswa dari pukul  07.00  s.d. 16.00?  Kondisi saat ini jumlah guru terbatas dan sebagian  tenaga kontrak. Ini bagaimana?” kata TIA Kusuma Wardhani. Kalau ada penambahan jam belajar, apakah diisi dengan  belajar? Tentu jawabannya tidak. “Yang harus ditambahkan, ekstrakurikuler. Ada lagi pertanyaan, apakah kita sudah memiliki guru yang sesuai, tidak mencari orang asal ada kita pasang,  kebutuhan apa yang harus diberikan selama anak-anak berada di sekolah, ini yang harus diperhatikan,” tegasnya.


Ia menilai, kondisi anak tidak semua dari ekonomi berkecukupan.  Karena siswa akan berada di sekolah mulai  pukul 07.00 s.d. 16.00, tentu ada makan siang. Samakah makanan siswa kita? Mungkin ada yang makannya mewah, atau sederhana. Kalau mau pesan di kantin, apakah kantin siap melayani. Misalnya dengan 1000 siswa, tentu kewalahan juga.


Sebaiknya ada kajian terlebih dahulu  agar bisa dilakukan  pemetaan.  Intinya, harus ada ada pilot project, yakni satu  sekolah yang dijadikan role model, sehingga bisa dilihat, apakah sekolah bisa mempertanggungjawabkan dengan baik kepada orangtua karena waktu anak lebih lama di sekolah. Mampukah sekolah mengantarkan anak-anaknya menjadi lebih baik dengan jam waktu anak yang lebih lama di sekolah.

Ia memberi contoh, kalau di daerah perdesaan,  jarak tempuh ke sekolah bisa sampai dua jam.  “Kalau pulang pukul 16.00, sampai di rumah sudah malam, ini berisiko  tehadap keselamatan dan keamanan anak.   Siapa yang akan mengantarkan anak-anak ini. Kalau mereka miskin, tentu orangtua mereka  tak bisa mengantar. Termasuk, anak-anak yang sepulang sekolah harus membantu orangtuanya bekerja, agar bisa  tetap sekolah,” kata TIA Kusuma Wardhani. –Wirati Astiti



Perlu Pilot Project

No comments:

Post a Comment