Tampaknya tidak banyak orang yang lahir dengan begitu banyak talenta dan nyaris seluruh talenta yang dimiliki itu pernah meraih prestasi. Fithriati Kahar adalah satu satu dari tidak banyak perempuan yang lahir dengan beragam talenta tersebut. Sejak kecil ia telah menjurai lomba-lomba baca puisi dan menari. Di usia yang terus beranjak remaja prestasi demi prestasi terus diraihnya bahkan hingga dewasa. Sejak SD ia sangat sering mewakili sekolahnya dalam berbagai lomba.
Di masa kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Mataram, perempuan kelahiran 25 November 1967 ini sangat aktif dalam berbagai kegiatan kesenian. Selain sebagai seorang penari, Yatik juga adalah pemain teater yang telah memainkan cukup banyak naskah teater bersama para teaterawan dan seniman di Mataram. Ia juga seorang MC berbakat, desainer serta penata rias. Semua bakat dan keahlian yang dimilikinya itu ia peroleh dengan cara otodidak. Tidak satu pun dari bakat yang dimilikinya ini dipelajarinya secara khusus melalui kursus atau pun semacamnya. Bakat-bakat tersebut seperti telah ada dalam dirinya secara alami. “Semua saya coba dan memulai dengan rasa percaya diri saja,” ujar Yatik mengungkap tentang kunci suksesnya.
Yang unik adalah, dua keahliannya sebagai desainer dan penata rias, ia dapatkan juga secara otodidak dan dengan percaya diri ia langsung tampil mengikuti sebuah ajang lomba dan dengan sangat mengejutkan ia berhasil meraih juara satu. “Dari sana saya baru mengerti bahwa untuk menjadi sesuatu itu harus diawali dengan percaya diri,” katanya.
Kisah ini menjadi unik bagi Yatik yang sama sekali tidak pernah merias wajah namun ia bisa tampil percaya diri. Hal ini terjadi di tahun 2007 ketika ia telah hijrah ke Sumbawa sejak tahun 1993. Ia dipanggil oleh kakaknya nomor 6 (Fatana) yang sekaligus mentornya itu, untuk mengikuti lomba rias pengantin di Mataram. “Semua itu karena dorongan yang kuat dari kakak saya yang menyuruh saya mengikuti lomba padahal kakak saya juga tahu saya tidak pernah sama sekali merias wajah siapa pun. Tapi saya memulainya dengan Bismillah…,” kata putri ke 10 dari 12 bersaudara yang lahir dari pasangan Abdul Kahar dan Hj. Siti Fatmah ini.
Dari lomba tersebut, ia berhasil menyabet juara satu dengan sangat mengejutkan. Padahal, Yatik mengaku hanya sesekali saja ia memperhatikan kakaknya tersebut merias pengantin karena ia memang seorang perias pengantin. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam dirinya ketika mengikuti lomba rias pengantin untuk pertama kalinya ini.Iia hanya bermodalkan percaya diri dan yakin bisa. “Saya bahkan tidak pernah memakai model untuk mencoba merias sebelum tampil lomba. Saat lomba itulah saya pertama kali menyentuhkan peralatan rias di wajah model,” ungkap pemilik Griya Rias dan Dekorasi TYRA di Sumbawa ini. –Naniek I. Taufan
Tak Pernah Mulai Tak Kan Pernah Bisa
Secara jujur Yatik mengungkapkan bahwa ketika pertama kali merias dan langsung ikut lomba ia memang grogi. Namun dengan satu keyakinan yang dipegangnya yakni kalau tidak pernah memulai maka tidak akan pernah bisa. Dan, Yatik memang membuktikan hal tersebut, bahkan melampaui hasil yang tidak pernah dibayangkan, langsung keluar sebagai yang terbaik.
Sejak itulah, berturut-turut hampir setiap tahun ada lomba sejenis, Yatik selalu meraih prestasi sebagai juara satu. Tidak hanya pada tata rias pengantin, Yatik juga sukses meraih juara satu instruktur tata rias rambut dan begitu pula dengan lomba tata busana ia sukses sebagai juara 1 kategori Baju Internasional. Pada tahun 2009 ia meraih juara 1 Desain Busana Kerja. Kini ia tidak saja mendesain busana melainkan tengah belajar untuk membuat sendiri melalui seluruh proses yang dimulai dari memilih bahan, menjahit hingga menghasilkan produknya. Dan banyak lagi prestasi lainnya yang berhasil ia raih.
Dengan berbagai keahlian tersebut, Yatik yang kini bekerja sebagai Kepala Seksi Pengembangan Nilai Budaya Dinas Pendidikan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disdikporabudbar) Kabupaten Sumbawa ini, menjadi salah seorang perempuan dengan pergaulan yang luas. Ia mengenal banyak orang sehingga banyak bersosialisasi dalam berbagai ruang dan waktu. Dari sanalah Yatik mengenal banyak klien yang kemudian memakai jasa Griya Rias dan Dekorasi TYRA. Inilah yang membuat usaha yang diberinya berdasarkan nama dirinya, suami dan dua anaknya, berjalan dengan baik.
TYRA adalah singkatan dari nama suaminya Totok Sugiharto, Yatik namanya dan nama dua anaknya Rian (21) dan Aldi (17). Di Griya Rias dan Dekorasi TYRA, Yatik yang memiliki 12 karyawan ini menyiapkan paket lengkap untuk pernikahan dan acara lainnya seperti, dekorasi, rias pengantin, wardrobe pengantin yang ia jahit sendiri dan ia juga biasanya langsung menjadi pembawa acara (MC).
Saat memulai Griya rias dan dekorasi TYRA ini, Yatik mengaku tak mengeluarkan modal yang banyak, melainkan hanya modal kepercayaan. “Ada yang memberi kepercayaan pada saya dengan memberi sejumlah uang untuk saya kelola pada sebuah acara pernikahan. Nah… dari uang itulah saya memulai semuanya,” katanya. Kecepatan berpikir, percaya diri dan yakin bisa disertai kecerdasan, membuat Yatik sukses mengelola kepercayaan tersebut yang kemudian menghasilkan hal yang memuaskan bagi kliennya. Begitu juga modal dalam merias. “Hadiah juara satu lomba merias adalah peralatan make up. Make up itulah modal awal saya,” ujarnya tertawa.
Saat merias pengantin, Yatik mendalami make up korektif yang mengoreksi kekurangan menjadi sebuah kelebihan bagi seorang perempuan, tanpa merubah terlalu banyak dari wajah aslinya. Adalah kebahagiaan tersendiri bagi Yatik ketika melihat klien puas dan semua kekurangannya tertutupi dengan menghasilkan kelebihan yang tidak merubah wajah asli kliennya.
Yatik tidak hanya berprestasi dari sisi talenta yang dimilikinya, melainkan ia adalaah perempuan yang cerdas. Sejak sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas ia selalu menjadi juara kelas. Dan saat mengakhiri kuliahnya di Fakutas Pertanian Universitas Mataram, Yatik membawa pulang gelar sarjana dengan IPK nyaris Summa Cum Laude. Begitu juga saat ia mendapat beasiswa dari Bappenas RI ketika ia mengambil Magister Perencanaan Kota dan Daerah di Fakultas Arsitektur UGM, ia berhasil lulus dengan IPK 3,9 dan menyelesaikan pendidikannya selama 13 bulan.
Yatik memang perempuan yang sangat aktif dan tidak pernah diam. Hari-harinya selalu diisi dengan berbagai kegiatan positif. Di antara segudang aktivitasnya itu, Yatik masih sempat aktif sebagai Koordinator Bina Dewasa pada Pramuka Korcab. Sumbawa. Sebagai instruktur tingkat nasional bidang tata rambut dan memiliki sederet keahlian lainnya, Yatik tengah mencita-citakan untuk memiliki sebuah lembaga pendidikan semacam pusat kegiatan belajar tempat ia berbagai ilmu merias, busana bahkan kesenian. “Saya ingin berbagi ilmu yang saya miliki kepada orang lain agar bisa dimanfaatkan untuk kehidupannya,” katanya. -Naniek I. Taufan
Awali dengan Percaya Diri
No comments:
Post a Comment