Celoteh anak-anak Desa Sesela dan sekitar selalu terdengar mengisi halaman belakang rumah Asmuni AS. Mereka adalah murid sekolah gratis bernama Alang-alang School Lombok yang berada di Dusun Barat Kubur Desa Sesela Gunung Sari Lombok Barat. Sekolah gratis ini telah dibuka sejak tahun 2010 yang dimulai dengan 20 murid. Anak-anak berusia 3-7 tahun yang bersekolah di tempat tersebut kebanyakan adalah anak-anak yang kurang beruntung. “Banyak yang anak yatim, ada juga yang tidak memiliki orang tua karena bekerja ke luar negeri, ada juga yang orang tuanya bercerai dan mereka juga banyak yang hanya diasuh oleh nenek mereka yang kondisinya tidak mampu,” ungkap Asmuni.
Hampir 100 anak yang setiap hari menerima pelajaran secara gratis dalam tiga kelas dengan empat orang guru yang mengajar juga dengan sukarela di PAUD ini. Anak-anak bersekolah di PAUD ini tampak berani dan percaya diri. Rupanya inilah salah satu pembelajaran yang diberikan kepada mereka. “Mereka harus percaya diri agar dapat mengembangkan bakatnya secara maksimal,” kata Asmuni. Selain itu, pelajaran budi pekerti juga tidak lupa diberikan kepada mereka. Di PAUD ini guru hanya menjadi fasilitator dan teman bagi anak. “Ketika anak tidak mampu menyelesaikan sendiri tugasnya, barulah guru akan membantu,” katanya.
Selama ini anak-anak yang tidak mampu di dusun tersebut tiap hari hanya menghabiskan waktu dengan bermain di rumah. Setelah mereka sekolah di PAUD, pagi-pagi mereka sudah bersih dan rapi sehingga jiwa-jiwa mereka menjadi lebih bersemangat. Hal ini tidak hanya baik bagi anak melainkan juga baik bagi orang tua dan keluarga di desa yang menyekolahkan anaknya di PAUD tersebut. Pagi-pagi mereka menjadi memiliki aktivitas yang bermanfaat terutama bagi anak-anak mereka dengan kegiatan memandikan dan menyiapkan kebutuhan sekolah bagi anak.
Bekerja sama dengan salah seorang pengacara muda di Mataram, Imam Sofiyan, Asmuni yang sengaja menyiapkan halaman belakangan rumahnya yang tidak terlalu luas itu, demi untuk membantu pendidikan anak-anak kurang mampu ini. Menurut Asmuni, biaya untuk menjalankan sekolah gratis ini diperoleh dari Imam Sofiyan yang juga banyak menemukan dermawan-dermawan yang peduli pada sekolah ini. Mereka berkolaborasi untuk menyelamatkan pendidikan generasi mulai dari usia dini. Sekolah gratis ini dibuka berangkat dari keadaan dan kondisi masyarakat di desa tersebut yang tidak semua orangtua mampu menyekolahkan anaknya pada tingkat PAUD. “Kebanyakan anak-anak di Sesela tidak mampu sekolah di PAUD, padahal pendidikan usia dini sangat perlu untuk meletakkan dasar-dasar pendidikan bagi anak,” ungkapnya. Sekolah ini juga berupaya menemukan potensi anak sejak usia dini atas bakat yang dimilikinya.
Asmuni yang menjadi Kepala Desa Sesela sejak tahun 2013 ini dengan sukarela memberikan tempat untuk anak-anak PAUD di halaman belakang rumahnya seluas 2 are ini sekaligus ikut mengelolanya, sesungguhnya lebih karena keinginannya untuk ambil bagian dalam mencerdaskan anak-anak mulai dari lingkungan dusun dan desa. Ia juga mengajarkan orangtua di desa tersebut, khususnya yang anak-anaknya bersekolah di PAUD ini untuk mau berbagi dengan cara berpartisipasi dalam menjaga dan memelihara kebersihan lingkungan belajar anak. “Semua harus ambil bagian untuk bertanggung jawab dalam pendidikan anak-anak,” ungkapnya. Karena itulah PAUD gratis ini dikelola dengan cara kekeluargaan dan gotong royong pada apa yang seharusnya bisa dilakukan bersama-sama.
Sejauh ini, orangtua hanya “menyiapkan” anak-anak mereka yang berusia 3-7 tahun untuk bersekolah secara gratis di PAUD ini tanpa dipungut biaya. Bahkan seluruh peralatan sekolah dan material yang dibutuhkan selama proses belajar dan mengajar juga disiapkan oleh PAUD ini. “Orangtua atau keluarga anak hanya kami mintakan kerjasamanya untuk secara bergiliran dan terjadwal untuk membersihkan PAUD tiap hari agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” ungkap Asmuni. Ini dilakukan juga agar para orangtua dan keluarga murid merasa memiliki PAUD tersebut.
Apa yang diajarkan di sekolah ini, selain mengenal angka dan huruf serta pendidikan konvensional lainnya, juga diajarkan mulai dari hal-hal yang sangat sederhana, seperti mengajarkan kebersihan gigi dan badan serta kebersihan lingkungan. Meskipun mereka adalah anak-anak desa di PAUD ini mereka diajarkan untuk menjaga kualitas hidup dan dirinya sejak usia dini dengan pola hidup sehat. “Anak harus mandi dan sikat gigi serta mengerti membuang sampah pada tempatnya,” kata Asmuni.
Anak-anak diberikan dua sikat gigi gratis. Satu dibawa pulang ke rumah masing-masing lengkap dengan odolnya dan satu lagi sikat gigi untuk mereka masing-masing di sekolah PAUD tersebut. Pola hidup sehat ini rupanya tidak hanya diterapkan di PAUD ini melainkan juga sebagai Kepala Desa Sesela, ketika pertama kali menjadi Kades Asmuni telah mengajak masyarakatnya untuk melakukan gerakan bungkus sampah dalam plastik.
Menurut Asmuni, gerakan ini dilakukan karena sebagai wilayah yang masuk dalam daerah wisata dulunya mengalami masalah serius soal sampah. Sesela merupakan pusat kerajinan ukir dan cukli khas Lombok yang memberikan kontribusi ekonomi yang baik bagi masyarakatnya. Di sini juga ada pasar seni yang merupakan salah satu tujuan wisata. “Maka itulah desa ini harus bersih,” ujarnya.
Saat itulah ia mengajak seluruh masyarakat Sesela untuk terlibat dalam gerakan bungkus sampah dalam plastik untuk memudahkan para petugas sampah memindahkan sampah-sampah tersebut ke tempatnya dan tidak berserakan sehingga mengganggu kesehatan masyarakat dan lingkungan. “Selama dua minggu pertama saya menjadi kepala desa, kerjaan saya mengurus sampah,” ujarnya. Selama dua minggu itulah alat-alat berat bekerja tiada henti mengangkut sampah dari Desa Sesela. Biaya untuk mengangkut sampah ini, didapatkan dari pendekatan kepada warga yang mampu menyumbang seikhlasnya untuk kepentingan bersama ini. Hasilnya desa tersebut menjadi lebih bersih dari sebelumnya. -Naniek I. Taufan
Orangtua Giliran Bersihkan “Sekolah”
No comments:
Post a Comment