Jatuh bangun dialami Dewi Supriani, S.H. Berbagai usaha pernah dijajal. Pengalaman menjadi guru yang terbaik untuknya. Kini, Direktur Utama PT Indo Bali Gas dan pemilik beberapa villa ini merasakan hasil kerja kerasnya.
Perempuan yang akrab disapa Anik ini menceritakan perjalanan hidupnya. Dari kecil hingga remaja ia terbiasa hidup serba ada. Mau minta apa saja dibelikan oleh ibunya. Namun, hal ini tak membuatnya bahagia. Yang terjadi malah sebaliknya. Ia kerap di-bully. “Nama saya kan Dewi Supriani. Beberapa teman sering mempelesetkan nama saya. Kalau saya nulis nama sering saya singkat Dewi S. Huruf S ini sering diganti jadi Dewi Selem. Zaman itu ada film seri di TVRI tentang anjing laut. Anjing itu namanya Salty. Nama saya pun diganti Dewi Salty. Karena keluarga kami jual BBM, nama saya dipatenkan jadi Anik Oli. Kalau orang bilang masa SMA merupakan masa paling indah, bagi saya masa SMA itu paling buruk,” kenang putri kedua pasangan (alm) Sunartadi dan Ni Made Nuratni ini.
Lulus SMA tahun 1986, ia kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar. Kuliah tak bisa diselesaikan karena ia menikah dengan Yahya Ali Al Zubaidi tahun 1989. Pasangan ini membuka lembar baru kehidupan dengan menjalankan usaha di Probolinggo, Jawa Timur.
Usaha tak berjalan lancar. Anik dan suaminya memutuskan kembali ke Bali. Mereka mulai dari nol. Kehidupan keluarga ini pun morat-marit. Mereka tinggal di rumah kontrakan dan pernah pindah hingga lima kali.
Tahun 1991, mereka mulai usaha garmen. Baru berjalan dua tahun, bisnis ini gulung tikar karena dibohongi pembeli dari Italia. “Kami juga pernah buka usaha soto gubeng. Pada masa itu, kuliner belum menjadi bagian dari lifestyle. Tahun 2000 kami membuka minimarket Nikito di Dalung. Minimarket ini juga dilengkapi dengan pusat jajanan serba ada (pujasera). Waktu itu Dalung masih sepi. Toko-toko belum banyak. Di minimarket ini kami juga menjual minyak tanah eceran,” kenang perempuan kelahiran 8 Agustus 1967 ini.
Seiring perjalanan waktu, bisnisnya mulai mengalami perkembangan. Kehidupan rumah tangga sudah mulai mapan. Anik pun kembali ke bangku kuliah. Ia memilih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Mahasaraswati. Gelar sarjana hukum pun diraihnya tahun 2006. Ia sempat menjadi magang di kantor advokat. Namun, karena merasa jiwanya lebih cocok untuk bisnis, ia pun fokus di bidang bisnis sedangkan suami menekuni usaha properti.
Konversi minyak tanah ke LPG juga membuatnya ikut berkecimpung di sektor ini. Ia dan suami mendirikan PT Indo Bali Gas tahun 2010 yang menjadi agen LPG 3 Kg. Selain itu, UD New Nikito menjadi agen minyak tanah nonsubsidi. “Apa yang saya raih hingga saat ini tak lepas dari doa ibu dan dukungan suami serta anak,” tegas ibu dua putra, Nabil Ali Yahya Al Zubaidi dan Hanif Yahya Al Zubaidi ini.
JANJI HARUS DITEPATI
Pendidikan dan bisnis menjadi hal yang melekat dalam keluarga ini. Putra pertamanya, sambil kuliah sudah memiliki usaha agen LPG di Buleleng dengan nama PT Putri Sunartadi Mandiri dan bengkel Zoom serta agen kaca film Black Max di Denpasar sedangkan putra kedua masih fokus untuk kuliah. “Bagi saya, pendidikan untuk anak-anak merupakan bekal untuk mereka yang tidak akan habis. Dengan modal pendidikan, mereka akan bisa menentukan masa depannya,” ujar pengusaha yang rutin mengadakan acara sunatan massal dan buka puasa bersama ini.
Mapan di dunia bisnis, Anik tak melupakan bidang sosial kemasyarakatan. Ia memiliki panti asuhan, sekolah mengaji, serta memiliki impian untuk membuat rumah singgah. Baginya, semakin banyak memberi dengan ikhlas, makin banyak rezeki yang akan didapat. ia sangat mempercayai hal tersebut karena sudah mengalaminya. Semakin banyak cobaan Tuhan artinya makin sayang Tuhan kepada kita. Semua cobaan pasti ada hikmahnya. Semua yang ada ini hanya titipan Tuhan yang harus dijaga baik-baik, disyukuri dan dijalani.
Anik menambahkan, dirinya sudah pernah berada di titik nadir, kemudian bangkit lagi hingga berada di puncak lagi. Ia mendapat pelajaran bahwa harta dan kekayaan hanyalah sementara. Ia pun yakin, semua orang memiliki jalannya masing-masing. Kita tidak perlu sirik dengan kesuksesan orang lain. Kita harus melirik bagaimana orang itu berusaha hingga bisa berhasil.
“Kita bisa sukses karena mulut tetapi kita bisa hancur karena mulut juga. Janji-janji yang keluar dari mulut harus ditepati. Ini namanya komitmen. Jangan suka mengingkari apa yang sudah menjadi komitmen,” tegas perempuan yang hobi memasak ini.
Kepada kaum perempuan, ia mengingatkan agar tidak melupakan tugas untuk melayani suami dan anak. Di luar rumah berlakulah sebagai pengusaha tetapi setelah di rumah,memasak dan mengerjakan rumah merupakan bagian dari tugas rumah tangga. Karena itu, Anik menekankan tentang pentingnya manajemen waktu dan manajemen keuangan. Kalau di rumah tangga sudah bisa diatur maka urusan perusahaan juga bisa diatur. –wah
Rancang Wisata Agro
Mapan di dunia energi tak membuat Dewi Supriani, S.H. berhenti. Ia dan suami terus mengembangkan usaha. Mereka sudah memiliki berbagai lini usaha yang berada di bawah PT Bali Indo Gas Group. Salah satu impian yang ingin direalisasikan adalah kawasan wisata agro. Mereka sudah menyiapkan lahan perkebunan di daerah Angseri, Tabanan.
“Suami saya senang berkebun dan saya senang jalan-jalan. Kami ingin mengombinasikan impian untuk mewujudkan kawasan wisata agro tanpa merusak alam aslinya. Kami ingin memberikan sesuatu yang berbeda. Semoga tahun 2017 ini bisa terealisasi,” ujar perempuan yang memiliki koleksi tas ini. Lokasi yang mereka siapkan ini dekat dengan permandian air panas Angseri sehingga menjadi daya tarik bagi pengunjung.
Anik menuturkan perjalanan hidup sudah ia lalui baik suka maupun duka. Materi tak selalu membuat orang bahagia. Karena itu dengan berbagi bersama orang-orang yang memerlukan bantuan, ia merasa mendapat kepuasan batin. Ia pun selalu menjaga tali silaturahmi dengan keluarga dan lingkungannya.
Ia juga percaya dengan staf dan pekerja yang berada di perusahaannya. “Saya bisa marah bila ada yang membuat kesalahan. Tetapi, saya juga siap minta maaf kalau saya yang salah. Ini menjadikan perusahaan saya bisa jalan. Kalau ada yang berhalangan, saya kadang turun tangan. Misalnya sopir tidak masuk, saya yang nyupir sendiri ke SPBE untuk mengambil gas karena ini bagian dari komitmen pelayanan bagi konsumen. Bagi saya, ini bagian dari tugas dan pelayanan. Saya tidak malu untuk melakukannya,” ungkap perempuan yang punya moto “saat tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu” ini. -wah
Jangan Sirik tapi Lirik
No comments:
Post a Comment