Wednesday, July 27, 2016

Ikuti Selera Pasar

Menuangkan ide bukanlah hal yang gampang juga bukan hal yang sulit untuk dapat menyelamatkan produk yang telah ada sejak nenek moyang. Endek dan songket merupakan salah satu produk  kebudayaan yang hampir kelam. Hal inilah yang melatarbelakangi Pertenunan Artha Dharma berkomitmen membangun wirausaha pertenunan yang mengedepankan kualitas. kain endek (2)

Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terkenal dengan tenunnya. Tenun meruapakan salah satu sarana seni yang patut dilestarikan. Kain ini kerap kali digunakan sebagai sarana upacara adat Bali. Dilihat dari cara pembuatannya, karya seni dibuat dengan menenun kain dari helaian benang pakan dan benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna alami. Produk yang terkenal dari hasil menenun adalah kain songket dan kain endek. Bedanya, kain songket umumnya menggunakan benang emas atau perak dan motifnya hanya terlihat pada salah satu sisi kain, sedangkan motif kain endek terlihat pada kedua sisi kain.

Pertenunan Artha Dharma yang dirintis oleh Ketut Rajin dan Made Endang Erawati, S.E sejak tahun 2002 di Desa Sinabun adalah usaha industri rumahan yang diawali dari rumah rumah penduduk. Mereka berusaha membina dan memberikan pelatihan dalam pengembangan di bidang tenun kepada masyarakat luas. Tujuan agar masyarakat mempunyai keterampilan dan bisa membantu ekonomi keluarga dan mengubah pola pikir masyarakat yang awalnya menganggap tenun tidak bisa membantu keuangan keluarga, hingga menjadi mata pencaharian utama. “Agar menekan tingginya pengangguran dan anak yang putus sekolah di Desa Sinabun,”ungkap Ketut Rajin. Disamping itu, Buleleng sangat kaya dengan motif-motif desain tenun yang hampir punah dan banyaknya penenun tetapi kurang berkembang.

Saat ini pertenunan tersebut sudah berkembang pesat sehingga menembus pasar global. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas adalah dengan menggali desain lama untuk dimodifikasi dan juga disesuaikan dengan selera pasar. “Salah satu desain baru yang diunggulkan di tahun ini adalah desain Singaraja yakni kolaborasi motif skordi dengan motif songket dan endek model keling kombinasi songket,” ujarnya.  Ia juga mengatakan, melihat tenun endek dengan motif yang masih umum dengan background polos dengan tiket pakan dan satu desain, dirinya mencoba mengkreasikan motif  baru dengan warna degradasi perpaduan antara pepatraan dengan skordi serta background yang bervariatif.

Dengan terus berinovasi menciptakan kreasi tenun endek model baru pemasaran endek hasil Pertenunannya hingga Jakarta dengan kisaran harga tergantung motif mulai dari Rp 400 ribu/pcsnya. Peminat endek tenun yang kebanyakan diminati oleh PNS untuk seragam dan ada juga dari kalangan swasta.

Keistimewaan dari produk yang dihasilkan adalah penggunaan benang sutra sebagai bahan baku yang diwarnai dengan pewarna alami sehingga lebih ramah lingkungan. Hal inilah yang membuat pertenunan ini selalu terserap pasar, bahkan saat ini sampai kewalahan menerima pesanan yang disebabkan oleh keterbatasan tenaga kerja terampil tenun. Disamping itu, tantangan yang dihadapi adalah produk yang dihasilkan cepat ditiru oleh pengrajin lain. Kualitas yang jauh di bawah, pengrajin tembakan menjual hasil produksi jauh lebih murah sehingga merusak harga pasar. akan tetapi hal ini tidak pernah dikhawatirkan sebab meraka selalu mempertahankan kualitas barang. -Wiwin



Ikuti Selera Pasar

No comments:

Post a Comment