Bunyi rantok (alat penumbuk padi tradisional Sumbawa yang terbuat dari kayu) bergemuruh. Itu tandanya di kampung tersebut akan ada seorang gadis yang hendak dinikahkan. Membunyikan alat penumbuk padi tradisional ini adalah kebiasaan turun-temurun masyarakat bersuku Samawa di Sumbawa. Peristiwa budaya ini bahkan tidak lekang dimakan waktu karena sampai saat ini tradisi tersebut masih dilakukan. “Bahkan saat ini lebih berkembang lagi,” ungkap H. Hasanuddin, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa.
Kegiatan budaya yang dilakukan para perempuan ini masih terus dipertahankan. Suasananya menjadi sangat ramai dan riuh. Kegiatan membunyikan rantok yang disebut baguntung dilakukan ketika seorang perempuan usai di bada’ (diberitahukan bahwa ia akan dinikahkan). Dalam tradisi bada’ tempo dulu, orangtua dan keluarga pihak perempuan akan memberitahu si gadis, bahwa kini ia telah resmi menjadi calon pengantin bagi laki-laki yang telah meminangnya. Ini berkaitan erat dengan pernikahan masyarakat Sumbawa tempo dulu yang lebih sering dijodohkan.
Karenanya, si gadis biasanya akan larut bersedih atau haru sepanjang malam usai di-bada’. Tidak jarang pula histeris karena kaget atau belum siap namun harus menjalaninya, meski dalam masyarakat Samawa biasanya anak perempuan dinikahkan pada usia yang sudah dianggap matang, 20 tahun ke atas.
Menurut Hasanuddin, makna membunyikan rantok ini adalah pemberitahuan kepada masyarakat bahwa ada anak gadis di kampung tersebut yang akan dinikahkan. “Ini sekaligus sebagai tanda untuk memberitahukan para lelaki untuk tidak mengganggu atau mendekati lagi gadis yang dimaksud karena ia akan menikah,” ujarnya. Selain itu, makna baguntung (membunyikan rantok) adalah untuk pemberitahuan sekaligus pemanggilan kepada seluruh kerabat yang ada di kampung tersebut untuk melaksanakan tradisi Nunya Rame (menumbuk padi bersama-sama).
Selain untuk keluarga dan kerabat, bunyi rantok dalam kegiatan baguntung ini juga untuk pemberitahuan kepada masyarakat akan adanya acara pernikahan. “Dengan begitu masyarakat juga akan segera menyiapkan diri untuk menjadi bagian dari kegiatan tersebut untuk bergotong-royong dan berpartisipasi menyukseskan pernikahan dimaksud,” kata Mustakim Biawan, budayawan Sumbawa.
Peran perempuan dalam kegiatan budaya ini sangat menonjol karena seluruh prosesi baguntung dilakukan oleh perempuan. Di samping baguntung, dalam tradisi daur ulang (siklus hidup) masyarakat Sumbawa, nyaris seluruh peran dalam melaksanakan tradisi ini dilakukan oleh kaum perempuan. “Peran perempuan dalam daur hidup masyarakat Samawa sangat penting,” ungkap Hasanuddin.
Beberapa prosesi adat dalam daur hidup masyarakat Sumbawa seperti, nunya rame, tama lamung (memakaikan baju bagi anak perempuan yang beranjak remaja sebagai simbol meninggalkan masa kecil), barodak (luluran khas Suku Samawa sebelum pernikahan), biso’ tian (tradisi tujuh bulanan) dan juga kepala koki tradisional yang disebut nuwang dalam kegiatan-kegiatan kenduri adat adalah perempuan.
“Bahkan dalam pemetaan ukuran rumah baik itu panjang maupun lebarnya, yang mengatur adalah perempuan karena ia dianggap sebagai kepala rumah tangga,” ujarnya. Inilah kearifan lokal yang ada dalam tradisi-tradisi masyarakat Sumbawa, yakni menjunjung tinggi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. “Perempuan Sumbawa dalam hal ini ditempatkan pada posisi yang terhormat,” katanya.
Dalam prosesi maning pangantan (mandi pengantin) misalnya, yang berperan memandikan pengantin adalah perempuan yang disebut Inak Pangantan. Begitu pula dalam proses barodak (luluran) dilakukan oleh perempuan yang disebut Inak Odak. Selain Inak Odak, luluran juga dilakukan oleh para perempuan lain yang dipilih sesuai dengan aturan adat. Begitu juga dengan sandro pangantan yang dilakukan oleh perempuan. Ina Pangantan, Ina Odak dan Sandro Pangantan bisa dilakukan oleh perempuan yang sama atau berbeda untuk tiap prosesinya.
–Naniek I Taufan
“Sutradara”nya Perempuan
Begitu pula dalam tradisi Biso tian yang merupakan tradisi tujuh bulanan seperti yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia sebagai ungkapan kebahagiaan menanti bayi pertama dari seorang ibu. Seluruh persiapan dan pelaksanaan tradisi ini dilakukan oleh para perempuan. Dalam tiap upacara adat biso tian, seorang perempuan yang disebut dengan Sandro Tamang (dukun beranak), memegang peranan yang sangat penting dalam prosesi ini. Sandro tamang adalah seorang yang diberi kepercayaan oleh masyarakat adat Samawa menjadi “sutradara” acara ini karena memiliki keahlian secara turun-temurun. Tidak banyak yang berprofesi sebagai sandro tamang, hanya mereka yang memiliki keahlian secara turun-temurun yang diakui secara adat.
Dialah yang akan mengawali proses ini dengan memandikan calon ibu dengan air kembang, melantunkan doa-doa untuk kebaikan dan kemudahan bagi calon ibu sembari mengguyur lembut air yang dipenuhi bunga-bunga ke tubuh sang calon ibu guna memberikan kenyamanan bagi ibu dan bayi yang dikandungnya. Ia juga yang menyiapkan alas khusus tempat calon ibu tidur dengan nyaman. Alas khusus ini terdiri dari selembar tikar yang dibuat secara khusus juga, orang Sumbawa menyebutnya samparumpu. Tikar ini adalah tikar khas masyarakat adat Samawa yang diyakini mampu menangkal hal-hal negatif yang mengarah pada calon ibu dan bayinya.
Untuk melindunginya secara supranatural dari kemungkinan-kemungkinan niat jahat di alam lain. Tidak itu saja. Di atas samparumpu tersebut diletakkan pula tujuh lapis kain berwarna-warni sebagai alas lapisan kedua. Dan pada lapisan ketiga akan diletakkan kembali tujuh lapis kain lagi. Dan di atas kain inilah, calon ibu ditidurkan. “Prosesi ini memang tidak sembarang perempuan bisa melakukannya kecuali yang telah memiliki keahlian turun-temurun,” kata Hasanuddin. Selain Sandro Tamang, ada enam orang perempuan lain yang akan mengambil peran saat acara inti biso tian ini yang disebut Mengas Mentar (mengangkat perut calon ibu menggunakan kain kemudian digoyangkan secara lembut). Enam orang lainnya adalah perempuan yang ditokohkan atau yang diteladani di kampung tersebut.
Peran penting perempuan juga ada ketika acara-acara kenduri di lingkungan. Dia adalah Nuwang, sang kepala koki tradisional. “Ini tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang. Nuwang adalah perempuan pilihan yang memiliki keahlian khusus bahkan orang yang memiliki tingkat spiritual yang tinggi,” katanya. Bagaimana tidak, Nuwanglah yang bertanggung jawab pada keamanan makanan yang akan dikonsumsi oleh orang banyak.
Berbagai peran penting yang dilakukan perempuan dalam berbagai tradisi masyarakat Sumbawa, sesungguhnya memberikan gambaran betapa pentingnya seorang perempuan baik perannya dalam masyarakat maupun dalam keluarga. -Naniek I. Taufan
Perempuan dalam Adat Budaya Sumbawa
No comments:
Post a Comment